Home

TAFSIR JALALAIN 1 Jumadil Akhir 1437 H/ 20 Maret 2016

Rangkuman pengajian Ahad pagi Majlis Taklim Tafsir Jalalain Tempat : musholla Al-Muhajirin, Puri Harmoni 1 Tgl          : 11 jumadil ak...

Kamis, 03 Agustus 2017

RANGKUMAN TAFSIR JALALAIN





Tafsir Jalalain
QS Asy-syuara ayat 160 -175
Ayat ayat ini menerangkan tentang kisah umat nabi Luth yang memiliki perilaku menyimpang terhadap lawan jenis. Mereka lebih menyukai sesama jenis dalam berhubungan seksual.
Nabi Luth sudah memperingatkan, tetapi mereka menolak bahkan mengancam nabi Luth untuk mengusir dari kampung halamannya jika tidak berhenti berdakwah kepada kaumnya. Sampai akhirnya nabi Luth berdoa kepada Allah SWT untuk menurunkan adzab kepada kaumnya.
Beliau memohon kepada Allah yang maha kuasa agar kaumnya yaitu masyarakat Sadum diberi ganjaran berupa azab di dunia sebelum azab bagi mereka di akhirat kelak.
Jika mereka diberi nasehat mereka menjawab :
 “Datangkanlah siksaan Allah itu, hai Luth, jika sekiranya engkau orang yang benar”
  Setelah mendengar ejekan dari mereka, Nabi Luth as berdoa kepada Allah, sebagaimana tersebut dalam Al qur an :
 Nabi Luth AS berdoa :
 “Ya Tuhanku tolonglah aku dengan menimpakan azab atas kaum yang berbuat kerusakan itu” (QS. 29 : 30) 





Permohonan Nabi Luth dan doanya diperkenankan dan dikabulkan oleh Allah SWT. Allah mengutus beberapa Malaikat untuk menurunkan azab terhadap kaum Nabi Luth as yang durhaka dan meningkari Allah. Ketika datang kabar kepada Nabi Ibrahim as akan dibinasakannya negeri Nabi Luth as dengan kaumnya, karena penduduknya yang selalu durhaka dan maksiat, maka terperanjatlah Nabi Ibrahim as.
Firman Allah dalam Al Qur’an : Berrkatalah Ibrahim :
“Sesungguhnya di kota itu ada Luth”
Para malaikat berkata :
“Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia, dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)” (QS. 29 : 32).

Tiga  Malaikat tersebut menyamar sebagai manusia biasa. Mereka adalah malaikat yang bertamu kepada Nabi Ibrahim as dengan membawa berita gembira atas kelahiran Nabi Ishaq as, dan memeberi tahu kepada mereka bahwa dia adalah utusan Allah dengan menurunkan azab kepada kaum Nabi Lutuh as penduduk kota Sadum. Dalam kesempatan pertemuan dimana Nabi Ibrahim as telah memohon agar penurunan azab atas kaum sadum ditunda, kalau kalau mereka sadar mendengarkan dan mengikuti ajakan Nabi Luth as serta bertaubat dari segala maksiat dan perbuatan mungkar. Juga dalam pertemuan itu Nabi Ibrahim as mohon agar anak saudaranya, Nabi Luth as diselamatkan dari azab yang akan diturunkan kepada kaum Sadum permintaan itu diterima oleh malaikat dan dijiamin bahwa Nabi Luth as dan keluarganya tidak akan terkenal azab, kecuali istrinya.

Selengkapnya mari kita baca QS Asy-syuara mulai ayat 160 sampai dengan ayat 175 berikut tafsirnya dalam kitab tafsir Jalalain:

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ       

«كذبت قوم لوط المرسلين»
(Kaum Luth telah mendustakan Rasul-rasul)

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ لُوطٌ أَلَا تَتَّقُونَ

«إذ قال لهم أخوهم لوط ألا تتقون»
(Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka, "Mengapa kalian tidak bertakwa?).

إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ
(Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan yang diutus kepada kalian)

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ

«فاتقوا الله وأطيعون»
(Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku).
ا

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

«وما أسألكم عليه من أجر إن» ما «أجري إلا على رب العالمين»
(Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepada kalian atas ajakan itu, tidak lain)(upahku hanyalah dari Rabb semesta alam).

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ

«أتأتون الذكران من العالمين» أي من الناس
165. (Mengapa kalian mendatangi jenis laki-laki di antara manusia?) melakukan homosex

وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُم بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

«وتذرون ما خلق لكم ربكم من أزواجكم» أقبالهن «بل أنتم قوم عادون» متجاوزون الحلال إلى الحرام
166. (Dan kalian tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Rabb kalian untuk kalian) yakni farji-farji mereka (bahkan kalian adalah orang-orang yang melampaui batas").

قَالُوا لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَا لُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمُخْرَجِينَ

«قالوا لئن لم تنته يا لوط» عن إنكارك علينا «لتكونن من المخرجين» من بلدتنا
167. (Mereka menjawab, "Hai Luth! Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti) dari mengingkari perbuatan kami ini (benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir") dari negeri kami ini

قَالَ إِنِّي لِعَمَلِكُم مِّنَ الْقَالِينَ

«قال» لوط «إني لعملكم من القالين» المبغضين
168. (Berkata) Nabi Luth, ("Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatan kalian) sangat membencinya.

رَبِّ نَجِّنِي وَأَهْلِي مِمَّا يَعْمَلُونَ

«رب نجني وأهلي مما يعملون» أي من عذابه
169. (Ya Rabbku! Selamatkanlah aku beserta keluargaku dari akibat perbuatan yang mereka kerjakan") yakni dari azab yang akan menimpa mereka disebabkan perbuatan itu.

فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ أَجْمَعِينَ

«فنجيناه وأهله أجمعين»
170. (Lalu Kami selamatkan ia beserta keluarganya semua).

إِلَّا عَجُوزاً فِي الْغَابِرِينَ

«إلا عجوزا» امرأته «في الغابرين» الباقين أهلكناها
171. (Kecuali seorang perempuan tua) yakni istri Nabi Luth sendiri (yang termasuk dalam golongan yang tinggal) orang-orang yang dibinasakan.

ثُمَّ دَمَّرْنَا الْآخَرِينَ

«ثم دمرنا الآخرين» أهلكناهم
172. (Kemudian Kami binasakan yang lain) yaitu mereka yang tinggal semuanya.

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِم مَّطَراً فَسَاء مَطَرُ الْمُنذَرِينَ

«وأمطرنا عليهم مطرا» حجارة من جملة الإهلاك «فساء مطر المنذرين» مطرهم
173. (Dan Kami hujani mereka dengan hujan) batu sebagai alat untuk membinasakan mereka (maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu) sejelek-jelek hujan adalah hujan yang menimpa mereka itu

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ

«إن في ذلك لآية وما كان أكثرهم مؤمنين»
174. (Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti yang nyata, kebanyakan manusia tidak beriman).

وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

«وإن ربك لهو العزيز الرحيم»
175. (Dan sesungguhnya Rabbmu, benar-benar Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang).

MUKHTARUL AHADITS

اكرم الناس اتقاكم
(رواه البخاري ومسلم)
Artinya : Seutama utama manusia adalah orang yang paling bertaqwa (HR. Bukhori dan Muslim)

الحزم ان تشاور ذا رءي ثم تتيعه
(رواه ابو داود)
Artinya : Sesuatu yang lebih menguatkan (atas suatu permasalahan)  itu adalah berdiskusi/share (mengenai hal itu) dengan seseorang yang memiliki kemampuan kemudian mengikutinya (HR. Abu Dawud)


POINT POINT PENTING :
Ustadz. Aziz :Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadits :
“Sesungguhnya di sekeliling ‘Arsy terdapat beberapa mimbar yang terbuat dari cahaya. Di atas mimbar itu terdapat sebuah kaum yang pakaian mereka terbuat dari cahaya dan wajah mereka bersinar. Mereka itu bukan para nabi dan juga bukan para syuhada’, para nabi dan para syuhada’ menginginkan kedudukan seperti mereka.” Lalu Abu Hurairah berkata, “Wahai Rasulullah, sebutkan sifat mereka kepada kami.” Lalu Rasulullah bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang saling cinta karena Allah, selalu duduk bersama (membahas perihal agama) karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah.” (An-Nasa’i).

Berkaitan dengan mushofahah (bersalam salaman) Rasulullah sollallohu alaihi wasallam bersabda :

 عَنِ اْلبَرَّاءِ عَنْ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
 مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَتَفَرَّقَا

 Artinya :
 Diriwayatkan dari al-Barra’ dari Azib r.a. Rasulallah s.a.w. bersabda, “Tidaklah ada dua orang muslim yang saling bertemu kemudian saling bersalaman kecuali dosa-dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum berpisah.” (H.R. Abu Dawud)

Berkaitan dengan hubungan suami istri, ada adab adab yang semestinya dilakukan. Sebagaimana disampaikan oleh Imama Gazali diantaranya :
Beruwudlu
Sholat sunat 2 rakaat.
membaca surat Al-Ikhlas 40x
membaca bismillah
mengucapkan salam kepada istri "Assalamualaika yaa baabal jannah"
mencium kening istri.
Berdo’a kepada Allâh (semoga Allâh melimpahkan nikmat-Nya), seperti do’a diajarkan
عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ قَالَ لَوْ أَنَّكُمْ إِذَا آتَى أَهْلَهُ قَال
َ : بِسْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَقُضِىَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌلَمْ يَضُرُهُ.

“Dari Ibnu Abbas r.a. ia menyampaikan apa yang diterima dari Nabi SAW. Beliau bersabda, “Andaikata seseorang diantara kamu semua mendatangi (menggauli) isterinya, ucapkanlah, “Bismi Allâhi, Allâhumma Jannibnâ Syaithânâ wajannibi al-syaithânâ mâ razaqtanâ.” (dengan nama Allâh. Ya Allâh, hindarilah kami dari syetan dan jagalah apa yang engkau rizkikan kepada kami dari syetan.” Maka apabila ditakdirkan bahwa mereka berdua akan mempunyai anak, syetan tidak akan pernah bisa membahayakannya.”
(HR. Bukhâriy dalam Kitab Shahihnya pada Kitab Wudhuk Hadits ke-141).



Imam Abu Hajar Al haetami ketika menerangkan hadits
 للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

 “Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq alaih)

Beliau menerangkan bahwa salah satu kebahagian surga dunia adalah ketika melihat anak keturunan kita sukses soleh/solehah.

Demikian Semoga bermanfaat.
Wallahu A'lam Bish Showaab.

Senin, 23 Januari 2017

MAJLIS TA'LIM TAFSIR JALALAIN DI MUSHOLLAH RUHUL UMMAN

RANGKUMAN PENGAJIAN AHAD PAGI

Tempat : Musholla Ruhul Ummah, Metlland Cileungsi.
24 Rabiul akhir 1438 H / 22 Januari 2017
KH Slamet Azis Zein

KAJIAN TAFSIR JALALAIN.
 QS. ASYSYU'ARO AYAT 47       
                           
قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ         

«قالوا آمنا برب العالمين»
Artinya :
047. (Mereka berkata, "Kami beriman kepada Rabb semesta alam).

QS. ASYSYU'ARO AYAT 48      

                                  
رَبِّ مُوسَى وَهَارُونَ 

«رب موسى وهارون» لعلمهم بأن ما شاهدوه من العصا لا يتأتى بالسحر

Artinya :
048. (Yaitu Rabb Musa dan Harun") karena mereka mengetahui, bahwa apa yang mereka saksikan dari tongkat Nabi Musa itu bukanlah sihir sebagaimana perbuatan mereka.

QS. ASYSYU'ARO AYAT 49  

                                           
         قَالَ آمَنتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَسَوْفَ تَعْلَمُونَ لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُم مِّنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ

«قال» فرعون «آمنتم» بتحقيق الهمزتين وإبدال الثانية ألفا «له» لموسى «قبل أن آذن» أنا «لكم إنه لكبيركم الذي علمكم السحر» فعلمكم شيئا منه وغلبكم بآخر «فلسوف تعلمون» ما ينالكم مني «لأقطعن أيديكم وأرجلكم من خلاف» أي يد كل واحد اليمنى ورجله اليسرى «ولأصلبنكم أجمعين»

Artinya :
049. (Berkata) Firaun, ("Apakah kamu sekalian beriman) lafal A-amantum dapat pula dibaca Tas-hil sehingga bacaannya menjadi Amantum (kepadanya) yakni kepada Nabi Musa (sebelum aku memberi izin) secara langsung dariku (kepada kalian? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpin kalian yang mengajarkan sihir kepada kalian) berarti ilmu kalian itu adalah sebagian daripada ilmunya, dan ini berarti pertarungan dan kemenangan di antara sesama perguruan (maka kalian nanti pasti benar-benar mengetahui) akibat perbuatan kalian itu dariku. (Sesungguhnya aku akan memotong tangan kalian dan kaki kalian dengan bersilang) yaitu tangan kanan mereka akan dipotong berikut kaki kirinya (dan aku akan menyalib kalian semuanya").   
       
QS. ASYSYU'ARO AYAT 50       

                                 
قَالُوا لَا ضَيْرَ إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنقَلِبُونَ          

«قالوا لا ضير» لا ضرر علينا في ذلك «إنا إلى ربنا» بعد موتنا بأي وجه كان «منقلبون» راجعون في الآخرة

Artinya :
 050. (Mereka berkata, "Tidak ada kemudaratan) tidak mengapa bagi kami jika hal tersebut ditimpakan kepada kami (sesungguhnya kami kepada Rabb kami) sesudah kami mati dengan cara apa pun (akan kembali) yakni kembali kepada-Nya di akhirat nanti.            


QS. ASYSYU'ARO AYAT 51
                                                  

إِنَّا نَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطَايَانَا أَن كُنَّا أَوَّلَ الْمُؤْمِنِينَ

«إنا نطمع» نرجو «أن يغفر لنا ربنا خطايانا أن كنا» أي بأن «أول المؤمنين» في زماننا

Artinya :
051. (Sesungguhnya kami sangat menginginkan) sangat mengharapkan (bahwa Rabb kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah orang- orang yang pertama-tama beriman") di masa kami ini.


MUKHTARUL AHADITS
" أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ أَنْ يَتَعَلَّمَ الْمَرْءُ الْمُسْلِمُ عِلْمًا ، ثُمَّ يُعَلِّمَهُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ "
(رواه ابن ماجه)
Artinya :
“ Sedekah yang paling utama ialah seorang muslim belajar suatu ilmu, kemudian mengajarkannya kepada saudara muslim lainnya “ (HR. Ibnu Majah)


As-Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas bin Abdul Aziz Al-Maliki Al-Hasani atau lebih akrab dipanggil dengan sebutan Sayyid Maliki atau Abuya Maliki di dalam salah satu kitab karya beliau yang berjudul Mafahim Yajib an Tusahhah menyampaikan sebuah hadits yang berbunyi :
  
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ
[ الترمذي عن كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ]

Rasulullah SAW bersabda;
"Barangsiapa yang mencari ilmu (yang dengan ilmunya tersebut) hanya untuk pandai berhujah (beragumentasi) dengan para ulama atau untuk menipu / mengelabui orang-orang jahil, atau hanya ingin mendapatkan kemuliaan manusia (dengan menjadi terkenal) maka Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka." (HR.Tirmidzi)


MAOIDLOTUL HASANAH

1 Ustadz. Nusron

Pada ayat sebelumnya, QS. Asyyuaro ayat 41  Allah SWT menggambarkan bagaimana keraguan para ahli sihir mengenai upah yang akan diberikan oleh firaun :

       فَلَمَّا جَاء السَّحَرَةُ قَالُوا لِفِرْعَوْنَ أَئِنَّ لَنَا لَأَجْراً إِن كُنَّا نَحْنُ الْغَالِبِينَ            
                                                                                             
«فلما جاء السحرة قالوا لفرعون أئن» بتحقيق الهمزتين وتسهيل الثانية وإدخال ألف بينهما على الوجهين «لنا لأجرا إن كنا نحن الغالبين»                 

 041. (Maka tatkala ahIi-ahli sihir datang, mereka pun bertanya kepada Firaun, "Apakah sungguh-sungguh) lafal A-inna dapat dibaca secara Tahqiq dan Tas-hil; kalau dibaca Tahqiq bacaannya menjadi A-inna dan kalau dibaca Tas-hil menjadi Ayinna (kami mendapat upah yang besar jika kami adalah orang-orang yang menang?").

Cerminan untuk saat ini, kita bisa melihat fenomena banyaknya orang-orang yang terbuai dengan imbalan yang dijanjikan meskipun dengan mengorbankan kebenaran.
Kadang kadang kita beramal sholeh, misalnya membangun musholla, tetapi karena ingin cepat selesai, menggunakan jalan pintas dengan menerima bantuan meskipun kita tahu bahwa sumbernya tidak halal.
Untuk itu, hendaknya kita bisa mengambil ibrah dari kisah Firaun ini.   








 Ustadz. H. Robah.



Kisah ketika istri Rasulullah SAW, siti Aisyah, difitnah oleh kaum munafik membuat sahabat Abu bakar marah.

Istri Rasulullah s.a.w. 'Aisyah r.a. Ummul Mu'minin, sehabis perang dengan Bani Mushtaliq bulan Sya'ban 5 H. Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula 'Aisyah dengan Nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau. dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. 'Aisyah keluar dari rombongan untuk suatu keperluan, kemudian kembali. tiba-tiba Dia merasa kalungnya hilang, lalu Dia pergi lagi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa 'Aisyah masih ada dalam sekedup. setelah 'Aisyah mengetahui, rombongannya sudah berangkat Dia duduk di tempatnya dan mengaharapkan  akan ada yang kembali untuk menjemputnya. Kebetulan, lewat ditempat itu seorang sahabat Nabi, Shafwan Ibnu Mu'aththal, diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan Dia terkejut seraya mengucapkan: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, isteri Rasul!" 'Aisyah terbangun. lalu Dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut Pendapat masing-masing. mulailah timbul desas-desus. kemudian kaum munafik membesar- besarkannya, Maka fitnahan atas 'Aisyah r.a. itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.

Kondisi ini membuat Abu Bakar marah dan bersumpah bahwa Dia tidak akan memberi apa-apa kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri 'Aisyah.
Tetapi ternyata Allah SWT, melalui wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW,  melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh mema'afkan dan berlapang dada terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu.

Allah SWT berfirman di dalam QS. ANNUR ayat 22 :

(وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ)

Artinya :
22. dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[1032]


Ustadz. Fathury Hza Muthaza


Berkaca dari kisah fitnah kepada siti Aisyah, maka perlunya sikap tabayyun terhadap berita yang belum jelas kebenarannya.
Saat ini banyak sekali berita HOAX yang sangat membahayakan jika semua orang menerima dan meneruskan berita ini tanpa tabyyun.

Mengeni kish persudaraan antara Nabi Musa AS dan Nabi Muhammad SAW,

 Nabi Musa :
      قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

   Nabi Muhammad SAW :
      
 أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ  وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ  الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ  وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ  فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا  إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا  فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ  وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ   .[1

 Nabi Musa AS yang memberi masukan kepada Nabi Muhammad SAW untuk meminta Allah SWT supaya mengurangi jumlah rakaat sholat dari 50 rakaat menjadi 5 rakaat saat Isra Mi'raj.
 Bahkan sampai sekarang persaudaran keduanya masih berlanjut. Diantaranya, tongkat Nabi Musa dan rambut nabi Muhammad SAW tersimpan di tempat yang sama di Museum Topkapi di Istanbul, Turki.


Demikian semoga bermanfaat Wallahu A'lam Bish Shawaab








Selasa, 17 Januari 2017

MAJLIS TA'LIM TAFSIR JALALAIN DI MASJID ASSA'ADAH

RANGKUMAN PENGAJIAN AHAD PAGI

Tempat : Masjid Jami Assa'adah
17 Rabiul akhir 1438 H / 15 Januari 2017

 KAJIAN TFSIR JALALAIN
     Oleh : KH. Slamet Aziz Zein
KH Slamet Azis Zein



   

QS. ASSYUARO AYAT 35-46

      يُرِيدُ أَن يُخْرِجَكُم مِّنْ أَرْضِكُم بِسِحْرِهِ فَمَاذَا تَأْمُرُونَ      

«يريد أن يخرجكم من أرضكم بسحره فماذا تأمرون»


035. (Ia hendak mengusir kalian dari negeri kalian dengan sihirnya; maka karena itu apakah yang kalian anjurkan?").


  قَالُوا أَرْجِهِ وَأَخَاهُ وَابْعَثْ فِي الْمَدَائِنِ حَاشِرِينَ

«قالوا أرجه وأخاه» أخر أمرهما «وابعث في المدائن حاشرين» جامعين

036. (Mereka menjawab, "Tundalah urusan dia dan saudaranya) tangguhkanlah urusan keduanya (dan kirimkanlah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan) menghimpun para ahli sihir.


   يَأْتُوكَ بِكُلِّ سَحَّارٍ عَلِيمٍ
                                                                               
«يأتوك بكل سحار عليم» يفضل موسى في عالم السحر                 

037. (Niscaya mereka akan mendatangkan semua ahli sihir yang pandai kepadamu") yang kepandaiannya melebihi Musa dalam ilmu sihir.  


فَجُمِعَ السَّحَرَةُ لِمِيقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُومٍ

«فجمع السحرة لميقات يوم معلوم» وهو وقت الضحى من يوم الزينة

038. (Lalu dikumpulkanlah ahli-ahli sihir pada waktu yang ditetapkan di hari yang maklum) yaitu pada waktu matahari mencapai sepenggalah atau waktu dhuha di hari raya mereka.
                                                                                                   

     وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلْ أَنتُم مُّجْتَمِعُونَ   
    
«وقيل للناس هل أنتم مجتمعون»
039. (Dan dikatakan kepada orang banyak, "Berkumpullah kamu sekalian).

                                                                                 
لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ السَّحَرَةَ إِن كَانُوا هُمُ الْغَالِبِينَ

«لعلنا نتبع السحرة إن كانوا هم الغالبين» الاستفهام للحث على الاجتماع والترجي على تقدير غلبتهم ليستمروا على دينهم فلا يتبعوا موسى

040. (Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang") Istifham pada ayat sebelumnya mengandung makna anjuran untuk berkumpul; sedangkan pengertian Tarajji atau harapan di sini bergantung kepada kemenangan para ahli sihir, dimaksud supaya mereka tetap menjalankan tradisi agama mereka dan tidak mengikuti ajaran Nabi Musa.


       فَلَمَّا جَاء السَّحَرَةُ قَالُوا لِفِرْعَوْنَ أَئِنَّ لَنَا لَأَجْراً إِن كُنَّا نَحْنُ الْغَالِبِينَ
                                                                                             
«فلما جاء السحرة قالوا لفرعون أئن» بتحقيق الهمزتين وتسهيل الثانية وإدخال ألف بينهما على الوجهين «لنا لأجرا إن كنا نحن الغالبين»                 

 041. (Maka tatkala ahIi-ahli sihir datang, mereka pun bertanya kepada Firaun, "Apakah sungguh-sungguh) lafal A-inna dapat dibaca secara Tahqiq dan Tas-hil; kalau dibaca Tahqiq bacaannya menjadi A-inna dan kalau dibaca Tas-hil menjadi Ayinna (kami mendapat upah yang besar jika kami adalah orang-orang yang menang?").
     

قَالَ نَعَمْ وَإِنَّكُمْ إِذاً لَّمِنَ الْمُقَرَّبِينَ
                  
«قال نعم وإنكم إذا» حينئذ «لمن المقربين»

042. (Firaun menjawab, "Ya, kalau demikian, sesungguhnya kamu sekalian) pada saat kalian menang (benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan kepadaku").


قَالَ لَهُم مُّوسَى أَلْقُوا مَا أَنتُم مُّلْقُونَ
                                                                          
«قال لهم موسى» بعد ما قالوا له إما أن تلقي وإما أن نكون نحن الملقين «ألقوا ما أنتم ملقون» فالأمر فيه للاذن بتقديم إلقائهم توسلا به إلى إظهار الحق


043. (Berkatalah Musa kepada mereka) sesudah mereka berkata kepadanya, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya yang lain, yaitu, "Kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?" (Q.S.7 Al A'raf, 115). ("Jatuhkanlah apa yang hendak kalian jatuhkan") perintah ini merupakan izin dari Nabi Musa kepada mereka supaya mereka lebih dahulu melemparkan apa yang hendak mereka lemparkan, dimaksudkan supaya lebih menonjolkan perkara yang hak. 044. (Lalu mereka menjatuhkan tali-temali dan tongkat-tongkat mereka, dan mengatakan, "Demi kekuasaan Firaun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang").


فَأَلْقَوْا حِبَالَهُمْ وَعِصِيَّهُمْ وَقَالُوا بِعِزَّةِ فِرْعَوْنَ إِنَّا لَنَحْنُ الْغَالِبُونَ          

«فألقوا حبالهم وعصيهم وقالوا بعزة فرعون إنا لنحن الغالبون»

044. (Lalu mereka menjatuhkan tali-temali dan tongkat-tongkat mereka, dan mengatakan, "Demi kekuasaan Firaun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang").


فَأَلْقَى مُوسَى عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ                  

«فألقى موسى عصاه فإذا هي تلقف» بحذف إحدى التاءين في الأصل تبتلع «ما يأفكون» يقلبونه بتمويههم فيخيلون حبالهم وعصيهم أنها حيات تسعى


045. (Kemudian Musa menjatuhkan tongkatnya, tiba-tiba ia menelan) lafal Talqafu ini bentuk asalnya adalah Taltaqafu, kemudian salah satu dari huruf Ta dibuang sehingga menjadi Talqafu, artinya menelan bulat-bulat (benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu) yang mereka sulap dengan ilmu sihir mereka, sehingga tampak seolah-olah tali-temali dan tongkat-tongkat mereka itu berupa ular-ular yang merayap.

      فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ  
                                          
«فألقي السحرة ساجدين»
  046. (Maka tersungkurlah ahli-ahli sihir sambil bersujud) kepada Allah


RANGKUMAN :

Keberhasilan Nabi Musa Melawan Ahli-Ahli Sihir Fir'aun.

Di depan masyarakat luas, Nabi Musa dapat menunjukkan mukjizatnya menghadapi ahli-ahli sihir Fir'aun. Nabi Musa mempersilahkan ahli-ahli sihir Fir'aun untuk mempertunjukkan kebolehan mereka lebih dulu. Mereka lalu melemparkan tali dan tongkat-tongkatnya, tak lama kemudian tali dan tongkat tersebut berubah menjadi ular yang jumlahnya ribuan ekor. Fir'aun tertawa bangga menyaksikan kebolehan para ahli sihirnya, masyarakat yang hadir disana juga terkagum-kagum. Dengan tenang Nabi Musa melemparkan tongkatnya, tongkat tersebut berubah menjadi ular yang sangat besar dan langsung melahap ular-ular para ahli sihir Fir'aun. Dalam waktu singkat, ular-ular itu habis di telan oleh ular Nabi Musa. Para ahli sihir itu terbelalak heran, apa yang diperlihatkan Nabi Musa bukanlah seperti sihir yang mereka pelajari dari syetan. Sadar akan hal itu, para ahli sihir tersebut berlutut kepada Musa dan menyatakan diri sebagai pengikut ajaran yang dibawanya.

 MUKHTARUL AHADITS


افضل الصدقة ان تشبع كبدا جاءعا
(رواه البيهقي عن انس)

Artinya:
 Sedekah yang paling utama ialah kamu mengenyangkan (memberi makan) perut yang lapar.
 (Riwayat Baihaqi melalui Anas r.a)     



 MAOIDLOTUL HASANAH


USTADZ. FATHURY AHZA MUMTHAZA

Kejadian luar biasa yang terjadi pada masa nabi Musa juga juga terjadi pada jaman wali songo. Diantaranya seperti kisah Sunan Giri.

Dikisahkan,
Sunan Giri yang nama kecilnya adalah Raden Paku alias Muhammad Ainul Yakin tidak hanya dikenal sebagai penyebar agama Islam yang gigih. Tetapi juga pembaharu pada masanya.

Pesantrennya, yang dibangun di perbukitan desa Sidomukti di selalan Gresik, tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan agama dalam arti sempit, tetapi juga menjadi pusat pengembangan masyarakat. Giri Kedaton, pesantrennya di Gresik, bahkan tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa kala itu.

Meluasnya pengaruh Sunan Giri di Gresik membuat Prabu Brawijaya, raja Majapahit kala itu murka. la memerintahkan patihnya, Gadjah Mada, ke Gin Penduduk Giri ketakutan dan berlari ke kedaton Sunan, Babad Tanah jawa menuturkan, ketika itu Sunan Giri sedang menulis. Karena terkejut mendengar musuh berdatangan merusak Giri, pena (kalam) yang dipegangnya Beliau lontarkan. Sunan Giri kemudian berdoa pada Sang Pencipta.
Ternyata kalam yang terlempar itu berubah meniadi keris berputar-putar, Keris dari kalam itu mengamuk dan banyak tentara Majapahit yang menyerbu Giri tewas, Sisanya kabur, berlarian kembali ke Majapahit.

Dan keris dari kalam itupun dikisahkan kembali sendiri ke kedaton Giri,Tergeletak di hadapan Sunan dengan berlumuran darah. Sunan lalu berdoa pada Yang Maha Kuasa,dan mengatakan pada rakyat Giri bahwa kerisnya yang ampuh itu dinamai Kalam Munyeng.

(seperti dikisahkan ust. Fathuri dan tambahan referensi dari internet).

Satu hal yag menarik dari kisah ini, ternyata sudah sejak dahulu kala, para wali itu rajin menulis. Ini yang penting.
Melalui tulisan para pendahulu, kita menjadi mengerti sejarah dan ilmu pengethuan.
Oleh karen itu, mari kita galakan kebiasaan menulis ini. Marilah kita produktif dalam kegiatan menulis.

 Ust. H. Maulana.


Sejarah itu berputar. Maka jangan lupakan sejarah.

Jika pada jaman nabi Musa, ada banyak para penyihir, yang rela mengabdi kepada penguasa dengan (hanya) bayaran materi untuk melawan kebenaran, maka saat ini pun kita bisa saksikan, begitu banyak orang yang rela menggadaikan dirinya utuk membela penguasa yang dzolim.
Maka, bersatulah untuk tidak memilih pemimpin yang dzolim.

Allah memberitakan bahwa Dia mengutus para Rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya supaya manusia menegakkan al qisth yaitu keadilan. Salah satu nilai keadilan yang paling agung adalah tauhid. Ia adalah pokok keadilan yang terbesar dan pilar penegaknya. Sedangkan syirik adalah kezaliman yang sangat besar. Sehingga syirik merupakan kezaliman yang paling zalim, sedangkan tauhid merupakan keadilan yang paling adil (Ad Daa’ wa Ad Dawaa’).
Perhatikanlah firman Allah yang mulia yang mengisahkan nasehat seorang ayah yang bijak kepada puteranya, yang artinya,
“Wahai puteraku, janganlah berbuat syirik kepada Allah, karena sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar. (QS. Luqman : 13).

Maka tidak mungkin pemimpin kafir berbuat adil, karena sejatinya dia telah berbuat dzolim terhadap dirinya sendiri.
Demikian , Wallahu A'lam Bish Shawaab.

Senin, 05 Desember 2016

KAJIAN TAFSIR JALALAIN

4 Robiul Awwal 1338 H/4 Desember 2016
Acara kajian Tafsir Jalalain pada hari Ahad tanggal 4 Robiul Awwal 1338H/4Desember 2016 diisi dengan acara Peringatan Hari Besar Islam Maulid Nabi Muhammad SAW.Penceramah  Dr Othman Omar Syihab Lc.
Dr Othman Omar Syihab Lc
Berikut Petikannya.
Dirangkum oleh :Ustdz  Hilma sholih

Assalaamu'Alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuhu.
Lisan  umat islam, lebih dari 50 kali menyebut nama Nabi Muhammad SAW dalam sehari. Oleh karena itu, selayaknya kita mengenal siapa Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya menyebut-nyebutnya dengan lisan, tetapi betul-betul meresapinya dengan hati bahwa yang selalu disebut-sebut namanya itu adalah seorang manusia agung, rasul utusan Allah SWT.

Di dalam Al-Quran surat Al-Sharh allah SWT meninggikan derajat nama nabi Muhammad SAW.
            (وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ)
   Artinya :   
    "Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu,"

Derajat Nabi Muhammad SAW sangat tinggi. Beliau sama seperti kita berasal dari golongan manusia, tetapi beliau adalah manusia pilihan yang diberi Allah SWT wahyu kepadanya.
Allah SWT berfirman di dalam surat Al-Kahfi ayat 110,

  (قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا)
Artinya:
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Tidaklah Allah SWT mengutus nabi Muhammd SAW melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Allah SAW berfirman di dalam Al-Quran surat Al-Anbiya ayat 107  :

       (وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ)
Artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Mafhum mukholafahnya, seandainya saja Nabi Muhammad SAW tidak diutus, maka tidak akan ada rahmat di muka bumi.

Di dalam Al-Quran surat Attaubah 168 Allah SWT berfirman,

          (لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ)

Artinya:
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
Ibnu Abbas menafsirkan kalimat "min anfusikum" dengan kalimat "min anfasakum" (sin nya difathahan) artinya golongan manusia dari bibit unggul.

Ketinggian derajat nabi Muhmmad SAW, bisa dlihat dari 3 hal :

Nasab beliau merupakan nasab pilihan.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki keutamaan nasab. Beliau merupakan keturunan orang-orang pilihan di setiap generasinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ان الله اصطفى من ولد ابراهيم اسماعيل . واصطفى من ولد اسماعيل بنى كنانة . واصطفى من بنى كنانة قريشا . واصطفى من قريش بنى هاشم . واصطفانى من بنى هاشم     

“Sesungguhnya Allah memilih Ismail dari anak-anak keturunan Ibrahim. Dan memilih Kinanah dari anak-anak keturunan Ismail. Lalu Allah memilih Quraisy dari anak-anak keturunan Kinanah. Kemudian memilih Hasyim dari anak-anak keturunan Quraisy. Dan memilihku dari anak keturunan Hasyim.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah).

Sebagai umat Nabi Muhammad kita pun selayaknya mengenal nasab beliau. Berikut ini nasab lengkap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nasab Nabi Muhammad

Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan (Ibnu Hisyam: Sirah an-Nabawiyah, 1:1) kemudian para sejarawan menyebutkan ada empat nama di atasnya hingga sampai ke
Nabi Ismail bin Ibrahim.





 Paras wajah beliau
Tidak ada seorang pun yang  memandang wajah beliau merasa tidak nyaman. Seseorang yang memandang wajah Rasul, akan timbul rasa cinta kepadanya. Pandangannya hanya puas ketika dia menundukan wajahnya.
Bulan yang begitu indah, jauh lebih indah paras wajah Rasulullah SAW. Bulan pun merasa cemburu dengan paras Rasulullah SAW.

Nabi memiliki ahlak yang mulia dan diutus untuk menyempurnakan ahlaq yang baik.
                                                                                                   
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja dan memperbaiki akhlak manusia. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.      


“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Bukhori)

Kemuliaan ahlak Rasulullah SAW, tercermin dalam sebuah kisah tentang sesorang yang dicium tangannya oleh Rasulullah SAW.

Suatu hari, Rasulullah baru tiba di Madinah dari peperangan Tabuk, melawan bangsa Romawi bersama para sahabatnya. Hampir seluruh sahabat mengikuti peperangan itu, kecuali mereka yang berhalangan seperti faktor usia dan sebagainya.

Ketika mendekati kota Madinah, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu di salah satu sudut jalan. Ketika itu Rasulullah melihat tangan tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Rasulullah kemudian bertanya, “ Kenapa tanganmu kasar sekali?"

Si tukang batu menjawab, " Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar."

Mendengar jawaban itu Rasulullah segera menggenggam tangan si tukang batu. Sesaat kemudian, Rasulullah mencium telapak tangan yang melepuh tersebut.

" Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya."

Rasululla SAW sangat mencintai sahabat dan ummatnya terutama ummatnya di akhir zaman.

 Rasulullah menceritakan tentang keimanan ummatnya.
 Baginda Rasulullah SAW bertsnya kepada para sahabat:
“Siapakah yang paling ajaib imannya?” tanya Rasulullah.

“Malaikat,” jawab sahabat.

“Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka senantiasa dekat dengan Allah,” jelas Rasulullah.

Para sahabat terdiam seketika. Kemudian mereka berkata lagi, “Para nabi.”

“Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka.”

“Mungkin kami,” celah seorang sahabat.

“Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian,” jawab Rasulullah menyangkal hujjah sahabatnya itu.

“Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya saja yang lebih mengetahui,” jawab seorang sahabat lagi, mengakui kelemahan mereka.

“Kalau kamu ingin tahu siapa mereka, mereka ialah umatku yang hidup selepasku. Mereka membaca Al Qur’an dan beriman dengan semua isinya. Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku (para sahabat). Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku meskipun tidak pernah hidup dimasaku, tapi mencintaiku dan ingin berjumpa denganku” jelas Rasulullah.

“Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka,” ucap Rasulullah.


Ada 4  hak nabi SAW :
 Cintailah Beliau lebih dari cinta kepada yang lainnya.
     Karena tidak ada yang memberi syafaat di hati Akhir kecuali beilau.
    
 Taat kepada Rasul.
QS. Annisa : 59

 (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا)
Artinya :
  Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.     

 Bersholawat kepadanya.

      (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
)
[Surat Al-Ahzab 56]
Artinya :
  Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

 Bersolawat kepada keluarga beliau.  


----''"""""""----'''-------Sekian------'''''-------''''''



Tidak terasa air mata membasahi pipi...
Air mata seorang manusia yang merindukan Rasulnya..
Apa jadinya jika kerinduan ini tak berbalas..
Karena kita tidak termasuk ummatnya...

Ya Allah, bimbinglah hamba untuk menjadi ummatnya.
Sampaikanlah sholawat dan salam kepada Nabi Rasulullah SAW.
Izinkan hamba menatap wajahnya, walau hanya dalam mimpi...
Aamiin...






Senin, 31 Oktober 2016

MAJLIS TA'LIM TAFSIR JALALAIN RANGKUMAN PENGAJIAN AHAD PAGI

Tempat : Musholla Al-Furqon, Metland Cileungsi
29 Muharam 1438 H / 30 Oktober 2016

KH SLAMET AZIS ZEIN





Q.S Al-Furqon ayat 63 ;


وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَاماً

«وعباد الرحمن» مبتدأ وما بعده صفات له إلى اولئك يجزون غير المعترض فيه «الذين يمشون على الأرض هونا» بسكينة وتواضع «وإذا خاطبهم الجاهلون» بما يكرهونه «قالوا سلاما» أي قولا يسلمون فيه من الإثم
  Artinya :

(Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah itu) yakni hamba-hamba-Nya yang baik. Lafal ayat ini dan kalimat sesudahnya, berkedudukan menjadi Mubtada, yaitu sampai dengan firman-Nya, "Ulaika Yujzauna" dan seterusnya, tanpa ada jumlah lain yang menyisipinya (yaitu orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati) dengan tenang dan rendah hati (dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka) mengajak mereka berbicara mengenai hal-hal yang tidak disukainya (mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan) perkataan yang menghindarkan diri mereka dari dosa.

Penjelasan :
Di dalam kitab Showi dikatakan :
Ayat ini menceritakan mengenai sifat seorang hamba Allah yang mulia. Hal ini merupakan sifat sifat seorang mu'min yang sempurna. Allah SWT menyipati seorang mu'min yang sempurna ini dengan 8 sifat. Dengannya, seorang mu'min bisa memperoleh pangkat yang tinggi di surga.
Adapun diidopatkannya (disandarkannya) kata ibad kepada Arrahman yang merupakan salah satu diantara nama Allah SWT, karena Allah SWT memuliakan dan mengagungkan hamba hambanya.

Sifat ke-1 :
Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan "haunan".
Dalam kitab  kata "haunan" ditafsirkan dengan kata "bi sakiinatin" (dengan tenang) wa tawadu'in" (dan rendah hati).

Sifat ke-2
Apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
Dalam kitab jalalain dijelaskan : perkataan yang menghindarkan diri mereka dari dosa.

Rasulullah SAW bersabda dalam salah satu haditsnya :

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir jannah (surga) bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran (al haq), juga sebuah rumah di tengah jannah bagi siapa  saja yang meninggalkan berbohong walaupun ia sedang bercanda, serta sebuah rumah di puncak jannah bagi siapa  saja yang berakhlak mulia.

KAJIAN KITAB MUKHTARUL AHADITS

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اعظم الناس حقا علي المراة زوجها، واعظم الناس حقا علي الرجل امه
(رواه الحاكم عن عاءشة)

Artinya :
Orang yang paling besar haknya atas seorang istri adalah suaminya, dan orang yang paljng besar haknya atas seorang laki-laki adalah ibunya.
(HR Al-Hakim dari siti Aisyah).






قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اعظم النساء بركة ايسرهن مؤونة (رواه احمد عن عاءشة)م
Artinya :
Wanita paling besar keberkahannya adalah mereka yang paling ringan belanja hidupnya.
(HR Ahmad dari siti Aisyah).

MAUIDLOTUL HASANAH

Ust. Fathuri.

Di dalam tafsir Ibnu Katsir, mengenai QS al-Furqon ayat 63 khususnya penjelasan tentang kalimat "haunan" dikatakan :
Cara jalan mereka tidak sombong, tidak angkuh, tidak jahat, dan tidak takabur. Tetapi makna yang dimaksud bukanlah orang-orang mukmin itu berjalan dengan langkah seperti orang sakit, karena dibuat-buat dan pamer. Karena sesungguhnya penghulu anak Adam (yakni Nabi Saw.) apabila berjalan seakan-akan sedang turun dari tempat yang tinggi (yakni dengan langkah yang tepat) seakan-akan bumi melipatkan diri untuknya. Sebagian ulama Salaf memakruhkan berjalan dengan langkah yang lemah dan dibuat-buat, sehingga diriwayatkan dari Umar bahwa ia melihat seorang pemuda berjalan pelan-pelan. Maka ia bertanya, "Mengapa kamu berjalan pelan? Apakah kamu sedang sakit?" Pemuda itu menjawab, "Tidak, wahai Amirul Mu-minin." Maka Umar memukulnya dengan cambuk dan memerintahkan kepadanya agar berjalan dengan langkah yang kuat. 


Ust. Inayat.

Di dalam kitab Risalah Ta'lim wa .... karya ...
Didalam kecintaan kita kepada Allah SWT, maka  :
Harus Faham
    Kita harus memahami ilmunya.
Harus Amal
    Kita beramal dengan dasar pemahaman ilmunya
Harus jihad
    Kita harus bersungguh sungguh dalam beramal
Penuh pengorbanan.
    Kesungguhsungguhan dalam beramal, memerlukan pengorbanan .


Wallahu 'Alam Bish Shawaab.

Jumat, 21 Oktober 2016

PERIHAL TATO DAN TINDIK

  Ustadz Fathuri Mumthaza:
USTADZ FATHURY AHZA MUMTHAZA
 Tato dalam bahasa Arab disebut dengan al-wasymu. Disebutkan dalam Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah, juz 11, h. 272-273 ,

bahwa al-wasymu adalah salah satu bentuk al-jirahah li ajlit tazayyun, atau melukai untuk tujuan berhias, membaguskan diri. Di mana hukum dasar dari tazayyun adalah istishab atau disukai/dianjurkan (Al-A'raf ayat 32) karena menunjukkan keindahan dan keelokan. Dan di banyak hadist Nabi maupun sahabat terbiasa untuk tampil rapi dan menyukai keindahan. Karena itulah ulama menganjurkan setiap muslim untuk berhias dalam kondisi-kondisi spesial, di antaranya ketika akan melaksanakan shalat jumat, hari raya, bertamu dan seterusnya. Berhias di sini bisa dengan memakai pakaian yang bagus (kecuali sutera untuk laki-laki) memotong kuku, menyisir rambut dan memotongnya, tampil bersih dan rapi serta memakai wewangian. Hal ini dianjurkan sepanjang tidak menimbulkan kesombongan dan keangkuhan bagi setiap individu muslim.  
Berhias untuk diri, dibagi menjadi beberapa macam, di antaranya adalah dengan:
                  
Pertama, melekatkan sesuatu, misalnya kalung , anting atau giwang dan sebagainya bagi perempuan. Kedua, dengan membersihkan, memotong atau melukai hal-hal yang ada dalam diri, misalnya memotong kuku, rambut, dst, termasuk membersihkan wajah. Tato sendiri, disebutkan dalam bagian yang terakhir ini, yaitu al-jirahah li ajlit tazayyun, bersama dengan tatsqibul udzuni (tindik telinga) dan qath'ul A'dha'i az-Zaaidah (memotong anggota yang lebih). Untuk hukum tindik telinga telah disebutkan sebelumnya, sedangkan untuk qath'ul a'dha'iz zaidah, misalnya jari tangan umumnya 5, tetapi ada orang yang dilahirkan dengan jari 6, maka menurut madzhab Hanafi dibolehkan memotong jari yang lebih itu, jika tidak menimbulkan bahaya, meski Ibnu Hajar atau Imam At-Thabrani mengharamkannya.                       
 Tato karena dimasukkan dalam kategori at-tazayyun ini, ada yang dengan argumen kebolehan berhias, maka menghukumi tato diperkenankan. Di antaranya yang mengemukakan hal ini adalah Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 2011 lalu, dan masih bisa dilihat di website www.fatwatarjih.com. menjawab pertanyaan perihal hukum tato.
Meski demikian, kalau kita melihat dan membuka beberapa rujukan mu'tabar, di antaranya Fathul Bari, Nailul Authar, dst, maka tato dikatakan hukum dasarnya adalah haram. Dasar yang kuat digunakan adalah "لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ "   Allah melaknat wanita-wanita yang mentato dan minta ditato, yang mencukur alis dan minta dicukur alisnya, serta yang meregangkan giginya untuk mempercantik diri, wanita-wanita yang merubah ciptaan Allah (Shahih Muslim, hadist no 1678). Hadist inipun diriwayatkan oleh Ahmad (Al-Musnad, juz 3, h. 22) dan disebut sebagai hadist shahih.                       
 Hal ini bisa dilihat di Tafsir Al-Qurthubi
, juz 5, 392 dan fathul Bari juz 10, h. 372.
Tato dijelaskan pengertiannya adalah tanda yang ada di tubuh dengan cara menusukkan jarum hingga mengeluarkan darah kemudian dicampur dengan semacam cat hingga meninggalkan warna membiru atau menghijau dari bekas tusukan jarum tersebut dengan gambar atau rupa tertentu. Di sini karena adanya darah yang tertahan di kulit, dikatakan oleh ulama menyebabkan adanya najis, bukan menghalangi sampainya air ke kulit, sehingga wudlu atau mandinya tetap sah. Oleh karena itu, ia diperintahkan untuk dihapuskan. Namun, jika menghapuskannya dengan merusak kulit kembali, maka lebih baik dicegah. Kecuali ada teknologi yang memudahkan menghilangkan tato ini tanpa merusak atau menyakiti anggota tubuh. Dan dijelaskan, misalnya di Al-Iqna, bahwa bermakmum dengan orang yang bertato tetap dihukumi sah.
Oleh karena itu, bagi yang bertato dan bertaubat, jika masih memungkinkan, usahakan dihilangkan. Tetapi jika tidak, maka bertaubatlah yang sungguh-sungguh kepada Allah dan laksanakanlah ibadah dengan mantap, tanpa ragu, dan serahkan semuanya pada keputusan Allah SWT. WaLlahu a'lam bish-shawaab...